Quarter life crisis…
Krisis usia seperempat baya atau seperempat abad :-)…bener ga ya..karena gw belum lagi seperempat abad, yah, walau gw tau waktu dua taun lagi itu ga lama.
Mungkin hampir semua perempuan mengalaminya..gamang, ga punya gambaran ttg masa depan, semacam itulah..belum lagi tuntutan budaya yang ‘mengharuskan’ perempuan dah punya seseorang yang bener2 tepat tuk dibawa ke pelaminan, sebelum dianggap sebagai perawan tua. Wow…
Semua itu terjadi pada your quarter life..tapi sungguh ga segampang itu mencari seorang pria yang benar-benar tepat dan mengajaknya ke pelaminan..hahahha..apalagi zaman sekarang. Tapi apakah ‘masyarakat’ mau mengerti? Ga usahlah dulu masyarakat, orang tua, orang yang terdekat dengan kita. Apakah mereka mau mengerti?
Beberapa hari lalu, gw cerita2 ama seorang teman, ga tentu arah sebenarnya..kami ngomong banyak hal..akhirnya yah, apalagi kalo bukan ttg ‘quarter life crisis’. Gw seolah tersadar klo gw bukan remaja lagi, masa remaja dah lama berlalu dari hidup gw.
Tapi betapa gw sungguh ga percaya, gw ga sempat menikmati momen itu…Masa remaja yg kata orang semua penuh mimpi-mimpi indah, harapan yang melambung tinggi, cinta…ah…
Mungkin masa remaja gw, tepatnya kami (gw ama temen gw itu) ga seperti kebanyakan remaja lainnya..jatuh cinta, putus, patah hati, jatuh cinta lagi, putus,…begitu seterusnya sampai ga kehitung udah berapa mantan pacar mereka..
Kami…punya berapa mantan pacar?…hahaha…pertanyaan yang ga usah di jawab..
Sampai terlontar pertanyaan, kenapa orang begitu mudah jatuh cinta, pacaran, putus, cari yang lain…begitu seterusnya..apakah mereka punya banyak cinta?
Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kehidupan kami normal?..sungguh suatu krisis percaya diri..
Pertanyaan itu menimbulkan pertanyaan berikutnya, apakah suatu kenormalan ditentukan dengan keharusan kita seperti orang lain pada umumnya, yah, like ordinary people?..bukankah setiap manusia mempunyai keunikan tersendiri?..
Kami normal tentu saja, karena kami tetap kagum dan suka ama lawan jenis bukan sejenis, kami masih bisa bisik2 sambil cekikikan ketika memperhatikan seorang cowok keren di suatu pesta misalnya..dan kalo dah ngumpul sesama cewek apalagi yang diomongin kalo bukan cowok?
Jadi apa yang salah?…Kita beda, itu kata temen gw itu..kita mungkin ga sempat menikmati momen yg seperti remaja lainnya yg hanya ngurusin soal cinta m’lulu…waktu mereka cuma habis tuk masalah cinta, cinta dan cinta…ga tersisa tuk yang lain..kita jelas bukan remaja seperti itu.
Dia menambahkan, "Walau kita mungkin ga sempat menikmati ‘indah’ nya masa remaja seperti yg orang lain katakan, tapi kita punya kesempatan menikmati keindahan yg lain…ketemu dengan banyak orang, berprestasi, organisasi, punya sahabat, membuat orang tua bangga, dan itu semua belum tentu bisa kita raih kalo misalnya kita seperti remaja kebanyakan.."
Suatu penghiburan diri barangkali
Tapi ketika gw melihat teman gw itu ternyata dia emang benar. Dan itu cuma berlaku untuk dia gw rasa..Aktivis kampus..mengikuti berbagai macam perlombaan dan menang tentu saja, mahasiswi berbakat, lulus cum laude…dan punya berlusin-lusin sahabat yang mencintainya..apalagi? Dan tau gak, sahabatnya yang berlusin-lusin itu adalah cowok semua..bukan main..dan setau gw dia cuma punya dua sahabat cewek..temen semasa kuliah dulu, dan gw tentu saja yang dikenalnya baru setaunan lebih..
Gw bangga bisa terpilih sebagai sahabatnya, dia bener2 perempuan luar biasa yang pernah gw kenal, dan kadang cemburu juga kenapa ya dia bisa punya sahabat begitu banyak dan sangat mencintainya? Apa siy rahasianya? Ga perlu susah2 tuk menjawabnya, jawabannya cuma satu She’s so special…(Imank..I love U..)
Tapi, lagi-lagi itu cuma berlaku utk dia, gw jelas bukan seperti dia. Ga ada yang istimewa dari gw, ga ada prestasi membanggakan yg telah gw capai, sahabat? gw cuma punya beberapa sahabat dan itupun dah lama ga saling kontak…lagi-lagi menganggap diri sendiri ga seberuntung orang lain…
Yah, setiap manusia adalah perwujudan seni Illahi, setiap manusia punya keunikan dan ciri khas tersendiri…
"Gw ga ingin jadi orang kebanyakan, gw ingin berbeda.." katanya lagi..dan gw cuma bisa mengiyakan dalam artian gw setuju bgt ama kalimat itu…
Yah, ga peduli walau sekarang kami sedang quarter life krisis..karena kami yakin..sesuatu sudah ditentukan jauh sebelum kami ada..kenapa ga coba memahami setiap ‘mahakarya’ yang telah ditentukan-Nya?