NARSIS!
Itu kata yang sering terlontar ketika gw seperti biasa sangat ‘sadar kamera‘ atau kata lain dari ga bisa kalo ga ikutan b’foto ketika orang laen lagi megang kamera. Walo gw ga fotogenik yg namanya b’foto mah kudu and wajib, titik!!..^_^..
Narsis? Hmm.. masa’ sih?. Gw yakin banyak dari kita yg emang suka b’foto. Dari yang emang hobby, sekedar iseng ato tuk mengabadikan momen tertentu. Tapi ga ada salahnya kan? asal ga berlebihan aja. Dan penyakit ’sadar kamera’ gw-pun blom dalam stadium IV kok!
Nah, cuma ada yg perlu diluruskan dari kata narsis ini. Kenapa harus narsis..mereka sadar ga sih yg dimaksud narsis itu apa?
Ini ada contekan dari apa itu narsis or narsisme biar ntar pas penyakit ’sadar kamera’ gw kumat ga bilang gw narsis lagi hehehe..
Kata narsis berasal dari mitologi Yunani, tentang seorang pemuda tampan bernama Narsisus.
Ia mengabaikan cinta seorang peri, Echos, karena ia lebih mengagumi ketampanannya dengan berkaca pada sebuah sungai. Dewi Nemesis pun menghukum Narsisus atas sakit hati Echos. Narsisus jatuh cinta pada bayangannya sendiri hingga akhirnya tenggelam. Berdasarkan mitos tersebut, kata narsis digunakan untuk menggambarkan orang yang mencintai dirinya sendiri.
Akan tetapi menurut Sam Vaknin, penulis buku Malignant Self Love – Narcissism Revisited, konsep narsisisme kerap disalahartikan. Narsisus sebenarnya bukan mencintai dirinya sendiri, tetapi bayangannya.
Ada perbedaan besar antara diri yang sebenarnya dengan diri yang terlihat dari sebuah pantulan. Mencintai diri sendiri adalah hal yang normal dan sehat. Tapi yang terjadi pada seorang yang narsis adalah ia menicintai citra diri yang ditangkap oleh orang lain.
Orang yang jatuh cinta pada bayangan tidak mampu mencintai sesamanya, juga dirinya sendiri. Dalam obrolan sehari-hari, kita biasa mengaitkan kata ‘narsis’ dengan rasa percaya diri yang tinggi. "Si X PD banget. Ga heran dia jadi sangat narsis!" Tapi di balik sikap arogan, ia justru mengalami krisis percaya diri. Untuk terus eksis, seorang narsis tergantung pada yang disebut sebagai "Narcissistic supply", yaitu pandangan orang-orang di sekitarnya yang menampilkan ilusi bahwa ia seorang yang penting unik, dan istimewa.
Kamu seorang yang narsis? Ketahui ciri-cirinya!
Mari introspeksi diri. Renungkan apakah hal-hal di bawah ini terjadi pada kamu.
- Kamu merasa orang lain harus mengetahui hal-hal besar yang pernah kamu capai
- Kamu berfantasi memiliki kesuksesan tak terbatas, ketenaran, kekuatan, dan kecerdasan yang tak tertandingi
- Kamu terobsesi pada penampilan fisik
- Kamu berharap dapat menaklukkan seseorang dan mencapai cinta penuh gairah yang abadi
- Kamu merasa bahwa diri kamu istimewa dan pantas diperlakukan istimewa pula
- Kamu menginginkan kekaguman dan perhatian berlebih dari orang di sekitar kamu
- Kamu sulit mengetahui perasaan atau kebutuhan orang lain
- Saat orang lain curhat kamu cenderung berkomentar, "Nah udah gue bilang
kan
… Lo ngga mau ikutin apa kata gue sih!"
- Kamu terus iri pada orang lain atau percaya bahwa orang lain juga iri pada kamu
- Kamu mudah depresi jika mengalami konflik dengan orang lain
Jika kamu membenarkan lebih dari
lima pernyataan di atas, hati-hati, kamu mungkin mengidap narsisme