belajar menjadi manusia
Tiba-tiba kulihat matanya menahan jutaan keluh tertahan. Ada pedih disana juga tanya dalam diam "dimana keadilan?"
Kenapa manusia saling menyakiti? Kenapa manusia se-enaknya men’judge’ manusia lain hanya karena tidak sesuai dengan pikiran dia? Kenapa manusia sering merasa benar sendiri? Kenapa manusia dengan bijaknya mengatakan bahwa perbedaan itu indah, namun tetap saja ribut ketika pendapatnya beda dari orang lain? dan seribu kenapa lainnya tentang kekecewaannya pada makhluk yang bernama manusia.
Tiba-tiba lidahku kelu. Aku mungkin termasuk bagian dari manusia itu. Mudah men’judge’ orang lain tanpa sempat ‘menyentuh’ dan ‘menyelami’ manusia yang aku ‘judge’ itu. Padahal aku tahu alangkah bijaknya kalau kita mau mengkondisikan diri menjadi mereka sebelum kita mengadili mereka dg pandangan kita yang kadang sangat subjektif.
Hhhh.. manusia, tiba-tiba aku juga merasakan kekecewaan mendalam pada makhluk yang bernama manusia itu.
Dia memilih untuk hidup sendiri dan terasing dari manusia. Barangkali pilihan itu adalah titik kulminasi kekecewaannya pada manusia.
O,ya sebagai renungan bagi kita yang masih (merasa) sebagai manusia ;-), pernahkah kita memikirkan:
Kenapa ada orang yang sangat ambisius, ada orang skeptis, ada orang yang memilih jadi gay, lesbian, biseks, atheis, psikopat, klepto, sister complex, sangat tidak percaya diri, pesimis akut..putus asa dan malah memilih bunuh diri sebagai jalan pembebasan dari segala macam persoalan yang membelenggu?
Yah, ada berragam prilaku manusia sebenarnya kalau kita mau sedikit meluangkan waktu melihat sekitar kita.
Memang banyak manusia yang dianggap ’sakit’ dalam kacamata masyarakat normal. Namun juga banyak manusia ’sehat’ yang sebenarnya bisa mengobati si-sakit’. Tapi, coba hitung berapa orang manusia’ sehat’ ini yang mau mengobati dan memahami si-sakit? Sangat sedikit yang mau peduli, yang banyak cuma bisa menuding si-sakit sebagai biang bencana..
Tiba-tiba aku tersadar, kenapa harus menunggu orang lain yang dianggap lebih bertanggung jawab soal ini bertindak lebih dulu? (pemerintah, ulama, LSM bla..bla..). Kenapa cuma bisa berkomentar, berteori dan berpikir saja?
Kenapa tidak bertindak?!
Aku malu, aku kecewa pada diri sendiri yang ternyata sangat picik..
Tapi, tidak ada kata terlambat kan?
So, aku akan belajar menjadi sahabatmu..whoever you are..
^_^
NB: bukan berarti aku menganggapmu ’sakit’ dan aku ’sehat’..karena soal ’sakit’ dan ’sehat’ itu sangat relatif kan? (malah bisa jadi aku yang ’sakit’ dan kamu yang ’sehat’ hehehe..so, mari saling menguatkan saudaraku..^_^..)
Btw, hanya Dia yang berhak men’judge’ manusia..