~ My RooM, My Everything;) ~

Tempat gw pertama kalinya berani menulis dan di publish untuk umum.. Isinya bener2 gw banget, apa yang terlintas, apa yang kerasa, apa yang kepikiran dan menggelitik gw untuk menuliskannya dan membaginya dengan orang lain.. Terlepas isinya mutu apa enggak, menarik apa enggak, nyinggung orang lain apa nggak..semuanya diluar kendali gw.. It’s Just a Blog, So Welcome n joy my blog =)

book of d week..

Filed under: Bacaan Gw — lia7783 at 12:18 am on Friday, March 9, 2007

Book2 Gw ga tau merasakan apa ketika menamatkan ‘A Child Called It’-nya Dave Pelzer..

Ada emang orang tua yang demikian kejamnya menyiksa anaknya yang masih dibawah umur selama bertahun-tahun? Dan jenis siksaannya benar2 diluar batas kemanusiaan, bahkan gw pikir binatang-pun tidak akan ‘tega’ menyiksa anaknya sekejam itu..

Child Abuse..ternyata ga cuma ada di film2 tapi ternyata emang ada di dunia nyata..

Gw melihat seringai pedih di sudut bibirnya ketika mengembalikan buku itu..(ya, ini emang buku pinjaman darinya..)

Hmm..apa maksudnya? apakah ’senyum,’ itu menyiratkan sesuatu? Ah, entahlah..kian hari gw kian tidak ‘mengenali’ dirinya..

Apakah dia korban ‘Child Abuse’? sehingga sangat menyukai buku ini? Lagi-lagi gw ga berani menanyakan dan berspekulasi..biarlah hanya dia yang tau..

Buku ini keren deh dan ‘based on true story’, sangat dianjurkan untuk dibaca (bagi yang belum baca)..ato jangan2 gw lagi yang kuper baru baca ni buku?

Hehehehe..^_^..

lagi seneng dengerin ini..

Filed under: All 'Bout Music — lia7783 at 8:36 pm on Sunday, March 4, 2007

Ordinary People_John Legend

 [Verse 1] 
Girl im in love with you 
This ain't the honeymoon 
Past the infatuation phase 
Right in the thick of love 
At times we get sick of love 
It seems like we argue everyday 

[Bridge] 
I know i misbehaved 
And you made your mistakes 
And we both still got room left to grow 
And though love sometimes hurts 
I still put you first 
And we'll make this thing work 
But I think we should take it slow 

[Chorus] 
We're just ordinary people 
We don't know which way to go 
Cuz we're ordinary people 
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh) 
This time we'll take it slow (Take it slow oh oh ohh) 
This time we'll take it slow



[Verse 2] 
This ain't a movie no 
No fairy tale conclusion ya'll 
It gets more confusing everyday 
Sometimes it's heaven sent 
Then we head back to hell again 
We kiss then we make up on the way 

[Bridge] 
I hang up you call 
Jhon_legend We rise and we fall 
And we feel like just walking away 
As our love advances 
We take second chances 
Though it's not a fantasy 
I Still want you to stay 

[Chorus] 
We're just ordinary people 
We don't know which way to go 
Cuz we're ordinary people 
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh) 
This time we'll take it slow (Take it slow oh oh ohh) 
This time we'll take it slow 

[Verse 3] 
Take it slow 
Maybe we'll live and learn 
Maybe we'll crash and burn 
Maybe you'll stay, maybe you'll leave, 
maybe you'll return 
Maybe another fight 
Maybe we won't survive 
But maybe we'll grow 
We never know baby youuuu and I 

[Chorus] 
We're just ordinary people 
We don't know which way to go 
Cuz we're ordinary people 
Maybe we should take it slow (Heyyy) 
We're just ordinary people 
We don't know which way to go 
Cuz we're ordinary people 
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh) 
This time we'll take it slow (Take it slow oh oh ohh) 
This time we'll take it slow


Serendipity..

Filed under: CuRHaT — lia7783 at 7:40 pm on Friday, March 2, 2007

Pernah nonton film Serendipity?

Film lama sih gw juga rada lupa pemerannya siapa, tapi entah kenapa film ini berkesan bgt deh bwt gw..Serendipity itu kalo ga salah sama dg ‘kebetulan yang menyenangkan’

Walo ni film rada ga masuk akal, masa’ orang yg baru kenal beberapa  menit tukeran alamat dan no telp pada selembar kertas dan mereka sepakat biar nasib (takdir) yang akan mempertemukan meraka suatu saat nanti..

Nah, karena tu alamat ditulis di t4 yang ga ‘aman’ mereka bener2 kehilangan kontak selama bertahun2 tapi tetap saling memikirkan dan yakin banget kalo mereka tuh jodoh..

Walo akhirnya happy ending, tapi seru bgt ngeliat usaha mereka utk saling mencari itu..hehehehe..

So, jadi mikir jodoh itu emang harus dicari ya? pernah jg baca sebuah tulisan ‘ketika kita mulai mencari cinta maka cinta juga akan mencari kita’ ..$%*7?@#..(bingung)

O,ya cuma jadi inget aja semalam ada ’someone’ ga dikenal nelpon gw. Gak ding dah pernah jg sih sms-an sebelumnya (kenalnya pas dia lagi denger gw siaran bbrp minggu lalu).

Biasanya gw males bgt nrima telpon ‘midnite’ ganggu tidur aja..tapi entah kenapa semalam gw mau angkat dan gilanya kami ngobrol ampir 2 jam!! Telpon terputus tiba-tiba krn pulsanya abis.

Mungkin kalo pulsanya ga abis gw yakin bisa jadi kami ngobrol ampe pagi..^_^..padahal sedang seru2nya ngomongin Kenny G..

Bukan obrolan biasa gw pikir..karena kami ngobrol seperti udah saling kenal, seperti dua orang sahabat yang dah lama ga ketemu..kok nyambung aja gitu lho?!

Mpe detik ini gw masih ter-herman-herman..what’s goin’ on?

Asyiknya ngobrol ama dia , ternyata dia suka jazz (horeee..), pintar nyanyi juga tau gak seh semalam dia nyanyi 4 buah lagu di telpon (gokil bgt;), suka film, suka bola tapi sayang dia kurang suka buku..tapi wawasannya lumayan luas kok..

Oughh..kok gw jadi gini ya? (malu-maluin aja)

Yah, maklum aja deh gw jarang ketemu ama orang yg bener2 nyambung ngobrol apalagi baru kenal nah, kaya’nya dia beda aja gitu.

Ya, udah..seneng aja dapet temen baru..

^_^

NB:Ga ada hubungannya ama Serendipity loh..

Bersendiri..

Filed under: CuRHaT — lia7783 at 7:55 pm on Thursday, March 1, 2007
Hari ini alhamdulillah lebih baek dari hari kemaren..
hari tuk mulai bangkit lagi dari keterpurukan (cieeehhh..)
Apalagi setelah membaca lagi tulisan ini (copy-paste) dari blog-nya MRA beberapa minggu yang lalu. Tapi swear ngena bgt so, ga ada salahnya kan di-share jg ma temen2 yg laen. Smoga bermanfaat
^_^
"Suatu malam, dalam dialog imajinernya, seorang murid menyatakan kepada gurunya bahwa ia baru saja sampai pada titik esensial femininitasnya. Titik itu didapatnya setelah serangkaian dialog yang dilakukannya, dengan pepohonan, jalanan, dan akhirnya dinding-dinding di dalam hatinya sendiri. Bukan, ia bukan tidak punya kawan. Ia sebetulnya memiliki banyak teman dan saudara, yang selalu siap menawarkan jasa yang murni berdasarkan hubungan yang tulus, atau paling tidak, hubungan saling menguntungkan, yang selama ini telah terbangun. Tetapi, yang tidak dimilikinya hanya satu, pasangan hati.
Ketika itu, dalam sebuah perjalanan, ia juga telah menemukan sebuah masjid yang teguh, teduh, dan begitu menarik untuk pesujudan kejerian hati, tetapi ia kemudian tersadar bahwa masjid itu terlalu suci baginya. Ia sedang datang bulan. Dan, ditemukannya dirinya terhenyak Spring1di tepi jalan yang kosong, dengan darah yang keluar dari dinding-dinding hatinya yang berguncang, yang pelan tapi pasti, rata dengan tanah. Takut menghujat Tuhan, sempat juga ia sampai pada puncak kemarahan, yang berbalik dalam sepersekian detik menjadi permohonan ampun yang mendalam, bagi keteguhan iman yang kemudian disadarinya ternyata telah runyam.
Ia memang perempuan. Luar dalam. Sulitnya, ia tidak punya lagi cukup keberanian dan tenaga untuk menolak kenyataan. Beginilah titik nadir femininitas perempuan itu bisa dijabarkan dengan serangkaian kenyataan internal yang paradoksal: ia ingin tertawa tetapi hatinya pedih. Ia ingin menyelesaikan kepedihannya tetapi ia tidak ingin kepedihannya memedihkan orang lain. Ia ingin berdialog, tetapi yang bisa menjawabnya hanya air yang keluar dari matanya sendiri. Ia ingin dikuatkan oleh Tuhan, tetapi ia pikir kesucian menolaknya dan ia menemukan diri menjadi lemah di bawah lemah.
Dan dialog itu pun terjadi.
“Jika saya tertawa, saya tahu itu adalah pemberian bagi lingkungan, tetapi juga kebohongan bagi kenyataan internal saya. Sungguh ingin saya temukan orang tempat saya bisa mencurahkan kejerian hati saya dengan jujur. Anehnya, sapaan-sapaan simpatik yang saya terima membentur dinding hati. Sebaliknya, hati saya merindukan dialog yang ternyata hanya monolog. Keriuhan internal ini membuat saya capai. Jadi, bagaimana, ya Mursyid?”
“Bersendiri. Bukan menyendiri, tetapi bersendiri,” tegas gurunya.
“Wakilkan seluruh derita kepada Tuhan. Serahkan kepada-Nya. Ketika tidak ada lagi dinding yang kuat untuk bersandar, Tuhan itu cukup.” Jadi kesimpulannya, ia tidak boleh dan memang tidak mungkin lagi berkeinginan?
Bersendiri, menurut An-Nifari yang dibahasakan kembali oleh Muhammad Zuhri, adalah kenyataan yang berbeda dengan menyendiri, karena bersendiri adalah kenyataan internal yang ditemukan. Ketika itu, kata-kata tidak bisa lagi memecahkan apa pun. Air mata apalagi, yang menjadi kering bersamaan dengan habisnya tenaga untuk menangis.
Ketidakberdayaan perempuan ini adalah satu kenyataan saja sebetulnya. Hal macam begini bisa saja dialami oleh setiap orang yang ditimpa musibah; ditinggal mati orang yang dicintai, bercerai, jauh dari keluarga maupun sahabat, kehilangan pekerjaan andalan, menderita sakit berat, atau dipojokkan oleh situasi ekonomi politik.
Ketika itu, hati memang minta diistirahatkan dalam pelukan keabadian, yakni Allah sendiri. Biarkan Allah saja yang menjadi kekuatan, menjadi “sisi maskulin” yang menggenapkan.
Betulkah? Saya tidak tahu. Tetapi, jika Anda ingin menemukannya, sungguh Anda tidak sendirian"
« Previous Page