Duh, Apaan Nih?!
Mungkin kalo mau hidup minim resiko dan ga mau susah dan disusahin mending jadi manusia setengah-setengah aja.
Setengah baik, setengah jahat, setengah kalem, setengah cablak, setengah pintar, setengah bodoh, setengah alim, setengah jahil..dan begitu seterusnya, memiliki kedua belah sisi dari semua macam sifat dan sikap!
Bukan apa-apa, cuma untuk cari jalan aman sekaligus mencari pembenaran atas setiap perbuatan yang dilakukan. Toh, sebagai manusia yang pasti memiliki ego dan bakat alami untuk harus melindungi diri sendiri kadang manusia emang harus menjadi manusia setengah-setengah.
Kenapa harus manusia setengah-setengah? Dan apa kabar soal prinsip dan konsistensi kita terhadap pilihan2 yg kita ambil dari sebuah keputusan untuk meyakini bahwa kita hidup dalam lingkungan yang mau-tidak-mau dikungkung oleh norma-norma?
Nah, coba ingat2 lagi setiap kita melakukan sesuatu yang dalam kacamata lingkungan itu menyalahi, kita akan berkilah.
"Maaf, saya khilaf, saya cuma manusia biasa yang…bla..bla..bla.."
(dilengkapi dg alasan2 kenapa bersikap seperti itu *justifikasi atas tindakan yang dilakukan*)
Yah, ngaku sih ngaku tapi tetap aja mencari celah utk ngasih alasan untuk bisa DIMAKLUMI.
Jadi apakah manusia tanpa disadarinya memang harus menjadi manusia setengah-setengah? Toh, kita tidak pernah betul-betul pasti akan suatu hal. Selalu berubah-ubah. Kita tidak pernah luput dari kesalahan dan menyalahi bahkan prinsip hidup kita sekalipun!
Kita tidak bisa bener2 baik karena pada saat2 tertentu kita bisa bersikap buruk bahkan walau cuma di dalam hati saja.
Kita tidak pernah bisa menyukai dan mencintai sesuatu atau seseorang karena pada saat2 tertentu kita bahkan membenci dan tidak menyukainya!
Kita juga tidak pernah bisa membenci sesuatu atau seseorang karena pada saat tertentu kita malah menyukainya.
*anggap aja ini postingan konyol walo sebenarnya emang tolol:)*
Mungkin seperti curhat:
Gw benci Amerika, dan dalam beberapa postingan di blog ini cukup menjelaskan kenapa gw benci Amerika. Tp setelah gw pikir gw gak anti Amerika kok, gw emang benci tapi bukan ama bangsa Amerika tapi ama kebijakan2 politik dan beberapa pejabat pemerintahannya yg bener2 bikin geram itu. Toh, gw masih menyukai Hollywood baik fim maupun beberapa aktor dan artisnya. Masih cinta ama musik2nya dan hei..gw ternyata gak anti Amerika!
Yah, mungkin gw emang ga konsisten dan plin-plan. Dan dengan menjadi manusia setengah2 gw bisa berlindung kalo misalnya ada teman gw yg menyudutkan :
"Katanya anti Amerika, kok demen film Hollywood, kok suka buku2 terjemahan yg mungkin sebagian karangan Amerika atau bahkan Yahudi!..kok ini, kok itu?"
Hmm, malu bgt kan? sambil tentu saja sibuk mikiran alasan yg tepat utk pembenaran atas tindakan yang gw lakukan.
Gw benci musik rock. Toh, gw masih suka Linkin’ Park, Red Hot Chili Papper, Green Day dan bahkan My Chemical Romance!
Gw suka Jazz, toh gw benci juga kadang2 dengerin Incognito, muak juga dengerin Brand New Heavies dan hei..Level 42 itu kadang membosankan juga!
Gw selalu bilang sinetron itu norak, tapi kenapa kalo ga ada kerjaan gw tonton juga walo cuma utk mencela artis2-nya
Gw suka buku psikologi tapi males juga karena kadang beberapa buku dg pengarang berbeda cuma membahas topik yg sama dan itu-itu saja.. ‘bagaimana memaknai hidup, bagaimna menggapai sukses or something like that!..membosankan!
Gw juga suka buku2 agama, tapi kenapa banyak buku tsb menggambarkan surga-neraka saja? kenapa kadang seperti doktrin? dan kadang betapa mengerikan membaca buku2 seperti itu. Walau ada juga yg mencerahkan.
Gw bijaksana kata beberapa teman gw, tapi mungkin mereka tidak tau betapa mudahnya kadang emosi gw terpancing justru oleh hal2 yg sangat sepele.
Gw kalem dan baik hati kata sebagian yg lain, tapi betapa gw bisa jutek, cablak dan sangat egois kalau gw mau!
Gw si sok tau, sok idealis, kadang bijak, kadang naif, kadang pintar, kadang bodoh, kadang baik, kadang jutek..bla..bla..
Hhhh..betapa kontradiksinya.
Dan, betapa melegakan mengakui hal ini dan jujur pada diri sendiri.
Gw ga tau apa yg terjadi pada diri gw, mungkin gw agak bermasalah soal aktualisasi diri. Kalo saja Carl Jung masih hidup mau rasanya gw tanyakan pada beliau..apa yg harus dilakukan oleh manusia yg belum juga mencapai aktualisasi diri pada usia hampir 24 tahun ini!
Hahahahahaha..sama seperti yg dilakukan oleh Mia Thermopholis di buku hariannya yg selalu gelisah tentang aktualisasi diri
Barangkali memang benar satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri.
*Yah, barangkali gw memang harus merubah ’sesuatu’ pada diri gw. Mengakui bahwa gw adalah manusia setengah2 itu jauh lebih melegakan daripada menjadikan hidup gw atas dua warna saja hitam dan putih. Karena gw lebih menyukai berada di keduanya. Kadang hitam, kadang putih bahkan kadang abu-abu*