Ada apa di mata Ahmad Mushadeq?
Maraknya pemberitaan seputar aliran-aliran sesat di tanah air belakangan ini, membuat gw tergelitik untuk sedikit berkomentar. Ini bukan berita baru gw pikir, karena sebelumnya, sebelumnya dan sebelumnya lagi aliran2 seperti ini sudah begitu sering terdengar.
Masih ingat kan dengan pesantren Al-Zaytun di Bandung yang konon kabarnya kompleksnya sangat megah itu? trus kasus Lia Eden dengan kerajaan tuhan-nya yang mengaku2 sebagai Malaikat Jibril? Aliran Al-Qur’an Suci, juga ada Ahmadiyah yang mengimani Mirza Ghulam Ahmad dari India sebagai nabi terakhir dan sekarang Al Qiyadah Al Islamiyah yang menjadikan Ahmad Mushadeq sebagai nabi mereka. Ada lagi?
Tidak hanya di Indonesia di Amerika-pun pernah heboh oleh kasus People Temple’snya Jim Jones, yang ber-bunuh diri ria bersama 900 ribu pengikutnya dengan soft drink rasa sianida di Guyana pada tahun 1978, dan tahun 1997 dengan kasus Heaven’s Gate dengan cara serupa. (Kompas.com)
Beberapa waktu lalu, gw melihat di TV berita tentang Ahmad Mushadeq yang menyerahkan diri ke Kapolda. Dan entah kenapa ada yang menarik perhatian gw. Matanya! Juga berita sebelumnya ketika dia dan jamaahnya mengadakan pengajian di salah satu hotel berbintang di Jakarta. Gw juga tertarik dengan matanya! Ada apa dengan matanya? hahahahahha..
(Maaf), ini cuma pandangan subyektif seorang gw yang bisa saja salah! Cuma gw melihat ada yang tidak biasa dengan mata Ahmad Mushadeq. Matanya menerawang dan tidak fokus kepada wartawan ketika berbicara. Dan gw menangkap itu suatu keanehan. Mata orang yang punya ‘masalah’ dengan kejiwaannya.
Well, gw bukan psikiater cuma gw pernah baca beberapa artikel tentang delusi (waham kebesaran) / delusions of grandeur of megalomania.
of Mental Disorders) dianggap sebagai suatu gangguan psikiatrik dengan
gejala utama adalah delusi atau waham. Umumnya pengidapnya tak
menampakkan adanya disintegrasi kepribadian atau adanya keanehan pada aktivitas kesehariannya. Mereka tampak "baik-baik" saja, kecuali menyangkut
sistem wahamnya semata yang abnormal. Tak heran, lingkungannya tak
menganggap mereka sebagai "orang sakit", tetapi justru orang yang sakti
mandraguna dan dipuja. Banyak dari mereka ini lalu mengisolasi diri dari
lingkungan dan hidup secara eksklusif dengan kelompoknya.